• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Surya

Awas Terpeleset Tondhu Majang!

Jumat, 6 Juli 2012 20:20 WIB
Awas Terpeleset Tondhu Majang!
Indra Kristika

oleh : Indra Kristika
Praktisi di SD Al Falah Surabaya 
indrakristika@gmail.com

 


Anda pasti pernah mengenal lagu Madura yang terkenal ini, Tanduk Majeng. Lagu daerah rakyat Indonesia ini bercerita tentang kehidupan nelayan di pesisir pulau Madura. Betapa nelayan mempertaruhkan nyawa demi mencari sesuap nasi, menghidupi anak istri dengan bertarung melawan keganasan ombak di laut lepas. Berat dan kerasnya kehidupan mereka mencari penghidupan justru dianggap sebagai suatu pekerjaan yang membuat mereka merasa nyaman, bahkan terlena akan nikmatnya bermain bersama ombak besar dan ribuan ikan yang berenang berkejaran.

Seperti dalam salah satu syairnya,
“Oh...mon ajelling odhi’na oreng majangan”
“abantal ombak sapo’ angin salanjangan”
(Oh andai dilihat betapa kehidupan para nelayan, berbantal ombak berselimut angin berkepanjangan)


Benar-benar kehidupan yang sangat keras. Toh demikian, warga Madura yang dikenal sebagai pelaut ulung, kerasnya kehidupan itu justru membuat mereka mampu bertahan hidup demi ibadah menghidupi keluarga tanpa ada keluh kesah. Terlepas dari itu, sayangnya lirik lagu Tanduk Majeng sudah bergeser dari lirik aslinya. Bagi warga non Madura dan tidak mengerti bahasa dan sastra Madura mungkin tidak masalah. Tapi bagi yang sedikit mengerti, akan sangat merasa terganggu.

Judul Tanduk Majeng, jika diartikan berarti tanduk (sungu, Jawa), majeng artinya mencari ikan di laut. Bisa diartikan tanduk majeng adalah menggunakan tanduk untuk mencari ikan di laut. Tentu tak nyambung bukan? Tulisan dan pengucapan yang benar adalah Tondhu Majang. Tondhu berasal dari kata katondhu berarti terlena. Sedangkan majang berarti berlayar mencari ikan di laut. Jadilah, nikmatnya mencari ikan di laut. 

Huruf berat dalam bahasa Madura, meski ditulis dengan vokal a, dibaca e (seperti membaca huruf e pada kata super). Maka tulisan ja dibaca je. Da akan dibaca de. Kecuali beberapa kata tertentu yang mendapat perkecualian karena keaslian struktur katanya. Huruf h di belakang suatu kata adalah tambahan lisan bukan tulisan. Seperti mon tengguh (kalau dilihat), seharusnya mon tenggu. Lalu, huruf d tebal (seperti membaca huruf d pada kata tanda) disisipi huruf h untuk membedakan membaca huruf d tipis (seperti membaca huruf d pada kata tumindak pada bahasa Jawa). Seperti peraturan bahasa di atas, berlaku juga perkecualian untuk beberapa kata tertentu.

Berikut lirik lagu Tondhu Majang berdasarkan tata bahasa Madura.

Tondhu Majang (nikmatnya mencari ikan di laut)
Ngapote wa’ lajara e tangale (memutih layar perahu terlihat jelas)
Reng majang tanto na la padha mole (pertanda para nelayan sudah pulang)
Mon tenggu dhari ambat pajalanna (kalau dilihat dari berat langkahnya)
Ma’ se bannyak a onggu le olle na (pasti banyak sekali oleh-olehnya (ikan))
Oh mon ajelling odhi’na oreng majangan (oh jika dilihat kehidupan nelayan)
Abantal ombak sapo’ angin salanjangan (berbantal ombak berselimut angin berkepanjangan)
Olle ollang parao na alajara (olle ollang perahunya berlayar)
Olle ollang alajara ka Madura (olleh ollang berlayar ke pulau Madura)
Olle ollang parao na alajara (olle ollang perahunya berlayar)
Olle ollang alajara ka temor dhaja ((olle ollang berlayar ke arah Timur Utara)

 
Demikian lagu rakyat Madura seharusnya dinyanyikan dan harus tetap dijaga kelangsungan hidupnya agar anak cucu kelak tetap dapat menikmati indah dan tingginya karya sastra Madura yang ada. Jadi, jangan sampai dipelesetkan ya…


Editor: Tri Hatma Ningsih
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas