.
Jika satu hektar lahan pertanian biasa cukup dikerjakan satu hingga dua orang saja, tidak demikian dengan lahan tanaman organik. Setidaknya diperlukan tujuh hingga 10 orang untuk menyiangi rumput liar dan membersihkan hama tanaman.
”Tidak ada penggunaan pestisida sama sekali. Supaya tidak tercemar semprotan pestisida, lahannya juga terpisah jauh dari pertanian biasa,” jelas Jemmy Tanaya, 26, Direktur CV Eco Organic ketika ditemui di Pakuwon Trade Center lantai LG B1, Selasa (3/72012).
Proses pembersihan beras di selepan juga tidak menggunakan obat pemutih. Hasilnya juga diuji di laboratorium yang bekerjasama dengan Sucofindo. Logo yang tertera di kemasan juga tidak asal tempel.
”Butuh dua tahun untuk memperolehnya. Kami mendapat sertifikat dan logo Organik Indonesia dari Lembaga Sertifikasi Pangan Organik, LeSOS,” papar alumnus Fakultas Hukum Universitas Surabaya ini.
Petugas dari LeSOS mendatangi lahan pertanian yang dikelola Jemmy dan teman-temannya itu setiap bulan atau tiga bulan sekali. Mulai dari proses pengolahan tanah, pembibitan, penanaman, pemupukan, penyemprotan pestisida organik, panen, pengeringan, penggilingan, hingga pengemasan.
Sistem pengairan ini juga sangat diperhatikan. Sumber air yang diperbolehkan berasal dari sungai atau air hujan. ”Air sungai tidak boleh tercemar maka perlu dicek berulang kali oleh petugas LeSOS. Petani biasanya membuat tanggul atau sawah tadah hujan,” terang Jemmy.
Setahun pertama, usahanya ini masih merugi. Sebab, susah juga mengelola tanaman organik dan petani sebagian besar bersikap ’nrimo’. Sehingga, permintaan pasar kadang tidak bisa dipenuhi secara langsung oleh Eco Organic. Rata-rata setelah dua minggu panen, stok langsung habis, jadi beras selalu dalam kondisi fresh.
Lahan yang semula hanya 10 hektar berkembang menjadi lebih dari 20 hektar. Dulu kuota produk berkisar tiga hingga lima ton per bulan. Sekarang naik menjadi 20 hingga 30 hektar per bulan tergantung kondisi panen.
Bagi petani, dengan adanya usaha pertanian organik ini kesejahteraan menjadi lebih baik. ”Petani ini sebagian besar memiliki lahan pertanian seluas 3.000 meter persegi. Nah, mereka memanfaatkannya dengan menanam sesuatu yang bernilai ekonomis,” tutur Jemmy.
Para petani ini pun menyadari bahwa pestisida yang disemprotkan ke tanaman itu beracun memicu penyakit kanker pada manusia. Petani yang tidak memperhatikan penggunaan alat pelindung diri juga terancam kesehatannya.
Dengan menanam beras organik, mereka menjadi senang karena tanah dan tanaman tetap sehat. Serta mempunyai modal untuk bertanam memakai polybag. ”Di luar negeri membeli sebotol pestisida harus ada izin dari lembaga pertanian. Termasuk jadwal kapan menyemprotnya dan berapa luas lahannya,” kata Jemmy.
Berbeda dengan Indonesia, di sini pembelian herbasida, fungisida, dan pestisida dijual secara bebas. Malah ada yang membisniskannya secara multi level marketing. Jemmy yang di awal usaha tidak mendapat dukungan orangtuanya ini masih memiliki impian lain.
”Saya ingin ekspansi ke susu organik. Susu kedelai yang tidak organik itu berperan memicu penyakit kanker payudara bagi perempuan,” ucapnya. Pandangan mata Jemmy penuh semangat. Ide baru muncul dengan tujuan yang sama yaitu membuat orang Indonesia lebih sehat di masa mendatang.