• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 24 Oktober 2014
Surya

Unitri Malang Kenalkan Biochar

Rabu, 27 Juni 2012 01:29 WIB
Unitri Malang Kenalkan Biochar
foto: Surya/Nedi Putra AW
POSTER ILMIAH-Sejumlah peserta seminar mengamtai poster ilmiah yang dipasang saat pelaksanaan Seminar Nasional Pengelolaan Limbah Biomassa di kampus Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri), Selasa (26/6).
SURYA Online, MALANG - Selama ini, istilah biochar memang tidak familiar di masyarakat. Karena itulah, Universitas Tribhuana Tunggadewi (Unitri) Malang mengenalkan biochar dalam seminar nasional Pengelolaan Limbah Biomassa sebagai Sumber Energi Terbarukan, Pertanian Berlanjut dan Mitigasi Pemanasan Global di Gor Unitri, Selasa-Rabu (26-27/6/2012).

Dalam seminar itu, hadir sebagai pembicara Dr. Ir Dadan Kusdiana, Kasubdit Program Energi direktorat jenderal tinggi energi baru mewakili kementerian ESDM RI, Ir.Soetino Wibowo, Ketua umum Masyarakat Konservasi Tanah Indonesia (MKTI), dan beberapa pembicara nasional lainnya. Seminar itu menghadirkan 40 pemakalah dari universitas, perusahaan, dan beberapa instansi yang konsen dalam penelitian pengelolaan limbah menjadi energi terbarukan.

Rektor Unitri, Prof. Wani Hadi Utomo menjelaskan, kampusnya belajar menjadi kampus mandiri dengan memanfaatkan beragam bahan baku yang tidak terpakai, salah satunya dengan mengubahnya menjadi biochar. Selain konsen pada biochar, Wani sudah menggunakan air hujan untuk keperluan kampus. "Saya tampung air hujan di tandon berukuran 1000 meter kubik. Itu salah satu cara kami menghemat energi," jelas Wani.

Dr. Ir. Widowati, salah satu dosen Unitri yang konsen dalam penelitian biochar menjelaskan, dalam bahasa familiar, biochar adalah arang. Bahan baku yang digunakan  untuk menjadi biochar di antaranya tongkol jagung, jerami, blotong, bagas, sekam, sampah organik, pupuk kandang, dan tempurung kelapa. "Semua itu bakar agar menjadi biochar. Manfaatnya untuk menyuburkan tanah pertanian sekaligus menghemat penggunaan pupuk urea," kata Widowati.

Proses pembuatan biochar sangat mudah. Bahan-bahan baku itu di bakar di sebuah lubang tertutup hingga empat hari. Setelah itu akan menjadi arang dan kemudian dicampurkan pada tanah pertanian. "Sudah kami aplikasikan di rumah kaca dan tanah pertanian. Hasilnya sangat signifikan," terangnya.

Biochar nyatanya dapat menghemat penggunaan pupuk urea hingga 50 persen. Dia contohnya, dengan menggunakan 30 kilogram biochar pada satu hektare tanah pertanian, maka akan menghemat 140 kilogram kilogram. "Tanpa biochar, pupuk urea yang digunakan sekitar 300 kilogram. Bisa sangat menghemat dan menyuburkan tanah pertanian," ungkap Widowati.

Manfaat biochar sangat besar. Sayangnya, tambah Widiowati, banyak masyarakat yang tidak tahu akan hal itu. "Padahal daerah kita adalah daerah pertanian. Banyak bahan baku pertanian yang dibuang sia-sian," tukasnya.

Sementara itu, dalam sambutannya mewakili kementerian ESDM RI, Dadan Kusdiana mengapresiasi Unitri yang telah konsen terhadap pemanfaatan biochar itu. "Saya rasa, Unitri sebagai satu-satunya kampus yang konsen dalam biochar itu. Ini sangat bagus sekali untuk mendukung pemanfaatan limbah biomassa menjadi energi terbarukan ," ujar Dadan.
Penulis: Siti Yuliana
Editor: Heru Pramono
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
246154 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas