Santri Tak Lagi Gemetar Buka Internet
Teknologi informasi (TI) benar-benar tak bisa ditawar lagi.
Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Suyanto
Tidak hanya mengajak ratusan santri melek internet, merka juga dibekali ketrampilan dasar program aplikasi atau membuat blog dan situs. UPN akan mengirimkan pakar TI ke seluruh pesantren di Jatim.
"Saya tidak pernah membuka internet. Tidak boleh sama aturan Ponpes. Saya tidak tahu apa itu internet," ucap Muhammad Said, salah satu santri dari Ponpes Nurul Qodim, Paiton Probolinggo.
Said mengaku awalnya gemetar dan keringetan saat mulai membuka internet. Dipandu tutor dan triner di lab komputer, santri ini mulai keasyikan. "Eh ternyata tinggal klik-klik. Yo gampang nek ngene thok. Tapi saya tidak paham bahasa Inggrisnya," kata Said yang kini mulai lancar browsing.
Bagus Ahmadi, santri dari Ponpes Ma'hadul Ilmi Wal Amal, Boyolangu, Tulungagung mengaku hanya bisa chating melalui facbook saat membuka internet. "Di Ponpes kami ada yang punya laptop. Tapi kami ingin bisa membuat aplikasi sendiri. Saya ingin download kitab kuning lebih banyak," kata Bagus.
Selain Said ada 193 perwakilan santri dan pengurus dari 18 Ponpes dari delapan kabupaten dan kota di Jatim. Di antaranaya dari Ponorogo, Ngawi, Nganjuk, Kediri, Pasuruan, Probolinggo, Madura, dan daerah lain. Selain mengajak santri di kampus mengenal internet, kemampuan ini untuk memperkaya sistem manajemen dan informasi di Jatim.
Internet goes to Pesantren ini kerja sama UPN, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementrian Informasi, dan Majelis Muwasholah Baina Ulama-il Muslimin (Forum Komunikasi Pesantren se- Asia Tenggara). Mereka sepakat mengantarkan pesantren paham internet.
"Minimal pengurus pesantren harus menguasai internet. Kami punya tenaga ahli yang siap mendampingi santri di setiap Ponpes," kata Rektor UPN Teguh Sudarto.
Dirjen Aplikasi dan Informatika Aswin Sasongko menyampaikan bahwa menjadi tanggung jawabnya untuk mengantarkan seluruh kelompok masyarakat paham TI. "Pesantren adalah kelompok sosial besar dan perlu disentuh dan dibekali ketrampilan IT. Bisa mengakses internet adalah salah satunya," kata Aswin.
Saat ini, masyarakat Indonesia yang membunyai akses internet baru 50 persen. Pada 2015 nanti, Kemeninfo menargetkan 55 juta harus sudah terakses. Tidak perlu memiliki jaringan internet, tapi minimal memiliki adress email dan sejenisnya.