Jumat, 24 Mei 2013: 22:00:15

Giliran Bojonegoro Tampil di TBJT

Jumat, 15 Juni 2012 22:39 WIB | Dibaca: 719 | Editor: Adi Agus Santoso | Reporter : Sri Handi Lestari
SURYA Online, SURABAYA - Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) akan menampilkan budaya dan kesenian khas dari Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (16/6/2012) malam.

Berbagai budaya yang diusung, mulai dari kuliner , kerajinan, dan produk yang dihasilkan khas Bojonegoro. Seperti serabi ketan, lontong kikil, buah belimbing, kerajinan batik motif daun jati, dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk kesenian, acara yang bertajuk "Gelar Budaya dan Seni Dari Bumi Khayangan Api" itu menampilkan seni tari tengul, tari gambyong Srampat, tari Jaranan, musik Oklik, ketoprak dan keroncongan.

Salah satu yang paling menonjol adalah tari Thengul. Tujuh penari perempuan terus melenggak-lenggokan tubuhnya. Namun, gemulai gerakannya itu tak secantik parasnya, yang berdandan menor, dengan bedak putih tebal serta pemerah pipi yang tak berbentuk. Dandanan tersebut memang disengaja untuk menunjukkan seni budaya khas Bojonegoro.

"Tari Thengul ini mulanya dari wayang thengul," tutur Kepala Dinas UPTD Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), Sukatno, di sela-sela persiapan pembukaan Gelar Budaya Bojonegoro, Jumat (15/6/2012) malam.

Wayang Thengul ini, bentuknya sama persis dengan wayang golek sebagai budaya khas Jawa Barat. Namun, untuk di Bojonegoro, wayang Thengul ini muncul sebagai media penyiaran agama Islam. "Untuk mengenalkan agama Islam di Bojonegoro, mereka yakni beberapa wali itu menggunakan media wayang Thengul," ujar Sukatno.

Diberi nama Thengul, lanjutnya, berasal dari kata metungul yang artinya muncul seketika. Cerita-cerita yang disampaikan kala itu pun sangat beragam. Dan, memunculkan tokoh umar amir dengan cerita religi yang diadopsi dari cerita yang ada di Madinah. Lamban laun, wayang Thengul ini menjadi kesenian yang terus ditampilkan dalam setiap acara. Mulai dari hajatan manten, khitan hingga acara pemerintahan.
Karena itu, cerita yang ditampilkannya bukan hanya sekadar syiar tentang agama islam saja. Realita kehidupan masyarakat di Bojonegoro juga dikupas. Bahkan, kisah Angling Dharma juga dihidupkan melalui wayang ini.

Boomingnya wayang thengul lantas dihidupkan pula dalam kreasi tarian. "Karena mengadopsi dari tokoh yang ada di pewayangan thengul. Raiasannya pun dibuat sama. Tak heran jika wajahnya terlihat begitu putih tepung," tutur Sukatno.

Berita Selengkapnya Klik di Sini »

Akses Surabaya.Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat surabaya.tribunnews.com/m/