Sabtu, 9 Juni 2012 16:58 WIB | Dibaca: 582 | Editor: Heru Pramono | Reporter : Marta Nurfaidah
Foto: Surya/Marta Nurfaidah
MERACIK SENDIRI - Siswa Tristar Culinary Institute Surabaya sedang membuat Bak Chang bersama Chinese Dim Sum Chef Chong Loong Fatt di Tang Palace, Hotel JW Marriott Surabaya, Sabtu (9/6).
SURYA Online, SURABAYA - Rasa Bak Chang, salah satu makanan tradisional China yang masih banyak ditemukan di Surabaya, memang selalu membuat rindu penggemarnya. Selain dapat dibeli di toko-toko kue kuno, kudapan yang terbuat dari beras ketan ini bisa dibuat sendiri di rumah.
Beberapa siswa Tristar Culinary Institute, Jl Jemursari, belajar membuat Bak Chang bersama Chinese Dim Sum Chef Chong Loong Fatt di Tang Palace, JW Marriott Surabaya, Sabtu (9/6). “Selain itu, dibuat pula dimsum berupa siomay ayam dengan jamur dan dumpling udang saus mayonais,” kata Chong Loong.
Kali ini, Bak Chang dibuat dengan isi pasta biji teratai. Berbeda dari kebanyakan makanan serupa yang berisi olahan daging bebek atau babi, telur asin, yang dicampur dengan kacang, atau jika ada memakai chestnut. Beras ketannya dicampur dengan minyak sayur dan air ki (kan sui). Tujuannya supaya ketika matang, beras ketan mengembang dengan sempurna dan kenyal.
”Ini Bak Chang vegetarian karena tidak memakai isi daging dan disantap dengan madu,” imbuh Chong Loong.
Bak Chang mirip dengan ketupat bagi orang Jawa. Beras ketan dan isian dibungkus daun bambu, bukan janur atau daun muda kelapa layaknya ketupat. Maka, daun bambu ini harus direbus terlebih dulu lalu dicuci dengan air bersih, baru bisa dipakai membungkus.
Cara lain, daun bambu direndam dengan air biasa semalaman. Tetapi lebih baik direbus agar kotoran benar-benar hilang. Daun panjang tersebut dilipat sedemikian rupa sehingga berbentuk segitiga. Boleh kecil atau besar sesuai selera. Kemudian, direbus selama empat hingga lima jam sebelum siap disantap.
“Paling sulit ketika melipat daun bambunya, karena beras ketan mentah jadi mudah kocar-kacir,” ucap Riza Hariadi, siswa Tristar Culinary Institute. Riza suka makan Bak Chang isi daging ayam atau bebek. Terkadang dia menyantapnya dengan Coto Makassar sebagai pengganti ketupat. Kangen dengan rasa Bak Chang membuatnya mengikuti program kelas memasak di Tang Palace ini.
Sedangkan Lusiana Melina yang menekuni bidang pastry, penasaran ingin tahu bagaimana membuat Bak Chang. Selain karena didorong alasan karena orangtuanya mengelola sebuah rumah makan China. ”Keluarga sering menikmatinya saat sembahyang Bak Chang berdasar kalender China di kelenteng,” ujar gadis dari Kediri ini.
Bak Chang sering dijumpai saat Festival Dragon Boat yang jatuh pada hari kelima bulan kelima setiap tahunnya. Festival ini untuk memperingati kematian penyair China kuno Qu Yuan, yang bunuh diri di Sungai Miluo. Rakyat membuat Bak Chang dan melemparnya ke dalam sungai supaya ikan tidak makan jenazah Qu Yuan.
Berita Selengkapnya Klik di Sini »