Jumat, 8 Juni 2012 13:11 WIB | Dibaca: 3519 | Editor: Tri Dayaning Reviati | Reporter : Didik Mashudi
surya/didik mashudi
M Hanif diantara limbah sampah yang bisa didaur ulang di gudangnya.
Mohamad Hanif, 48, jatuh bangun menekuni segala macan jenis usaha dan bisnis. Usahanya baru menorehkan keberhasilan setelah merintis pendirian Bank Sampah Sumber Rejeki di Jl Panglima Polim, Kota Kediri.
Juragaan yang bersahaja. Itulah Hanif. Sepatu butut, pakaian sederhana. Lebih suka melayani rekanannya, para pengepul sampah dan barang bekas di gudang sekaligus kantornya itu.
Hanif tak canggung bergelut dengan berbagai macam jenis limbah dan barang bekas, mulai botol, plastik, kertas bekas, karton serta besi dan seng bekas.
Setiap hari, puluhan orang nasabah (pengepul dan warga yang setor sampah) hilir mudik ke gudangnya. Lima karyawan bertugas memilah dan membersihkan barang-barang bekas itu.Sesuai jenisnya, Hanif membeli dengan harga variatif. Kertas misalnya, Rp 4.000 hingga Rp 8.000 per kg.
Bank Sampah Sumber Rejeki berdiri awal 2009, sekarang omzetnya rata-rata Rp 300 juta per bulan. Kalau sedang ramai bisa melonjak menjadi Rp 400 juta hingga Rp 500 juta.
“Kami tak akan menolak kiriman barang dari nasabah,” terang Hanif yang di masa mudanya menekuni usaha ilegal sehingga sering diburu polisi.
Sempat jual beli sembako dan elektronik tapi merugi. Ia ditipu, barangnya digelapkan, produk kedaluwarsa sehingga tak laku dijual. Ketika banting setir ke sampah, justru usahanya berkembang.
“Modal awal sekitar Rp 5 jutaan hasil pinjaman teman," tutur Hanif yang kini biasa menjual barang bekas jenis kertas dan kardus di pabrik daur ulang di Jombang.
Sedangkan bahan besi dan logam serta sejenisnya disetorkan ke pabrik daur ulang yang ada di Mojokerto. Hanif tak kesulitan menjual karena pabrik berprinsip ada barang ada uang.
Berita Selengkapnya Klik di Sini »