• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Surya

Mediasi Kasus Perkosaan Pelajar SMP Buntu

Minggu, 3 Juni 2012 15:41 WIB

Mediasi Kasus Perkosaan Pelajar SMP Buntu
foto: Surya/Didik Mashudi
Diamankan – Petugas menunjukkan barang bukti pakaian milik korban perkosaan serta botol tempat miras.
SURYA Online, KEDIRI - Upaya mediasi kasus perkosaan yang menimpa Bunga (14), pelajar SMP di Kota Kediri, Jawa Timur akhirnya menemui jalan buntu. Sehingga kasus perkosaan yang dipicu dari pesta miras para pelajar tersebut bakal dilanjutkan ke proses  hukum.
 
“Mengingat korban dan pelaku masih sama-sama pelajar di bawah umur, kita coba lakukan mediasi dengan orangtua korban dan pelaku. Namun hasilnya pihak keluarga korban menolak upaya damai,” ungkap AKP Siswandi, Kasat Reskrim Polres Kediri Kota kepada Surya, Minggu (3/6/2012).
 
Seperti diberitakan, Bunga menjadi korban pemerkosaan dua temannya yang juga sesama pelajar SMP yakni, L (15) warga Desa Jeruk, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri dan Y (15) warga Kelurahan Ngletih, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Kasus asusila itu diawali pesta miras.
 
Dijelaskan Siswandi, karena mediasi tidak ada titik temu dengan keluarga korban. pihaknya bakal meneruskan memproses kasus pemerkosaan tersebut. Namun karena dua pelakunya masih pelajar belum dilakukan penahanan.
 
Sedangkan dari hasil visum petugas medis yang telah diterima tim penyidik, memang ada indikasi ditemukan bekas pemerkosaan. “Untuk pembuktiannya nanti di persidangan,” jelasnya.
 
Kasus pemerkosaan yang menimpa Bunga membuat warga Kota Kediri prihatin. Masalahnya, pelaku dan korban masih duduk di bangku SMP sudah melakukan pesta miras serta berhubungan sex dua lawan satu.
 
“Kejadian permerkosaan pelajar SMP ini menjadi pelajaran berharga bagi para orangtua untuk mendidik dan mengawasi pergaulan putra putrinya di luar rumah. Ada kalanya anak saat di rumah alim, tapi di luar pesta miras dan berhubungan seks,” ungkap Ainul Yaqin (35), salah satu pendidik di Kota Kediri.
 
Ainul  berharap kasus pemerkosaan yang melibatkan pelaku dan korban pelajar SMP tersebut ditangani lebih arif dan bijaksana. “Penegakan hukum memang perlu dilakukan, namun hak-hak anak yang menjadi pelaku dan korban juga harus tetap dilindungi. Jika diperlukan korban perkosaan juga didampingi psikiater,” harapnya.
Penulis: Didik Mashudi
Editor: Heru Pramono
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
Facebook Connect
  | Social:    ON Social:    OFF | Option

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas