Sabtu, 18 Mei 2013: 21:14:16

Ika-Erwina Disebut Tak Ikuti Prosedur

Rabu, 9 Mei 2012 23:27 WIB | Dibaca: 357 | Editor: Eko Supriyanto | Reporter : Ravianto
SURYA, Online SURABAYA - Pengprov Perpani Jatim menolak disalahkan atas tidak
terdaftarnya pemanah Jatim yang lolos ke Olimpiade 2012, Ika Yuliana bersama
dua pemanah nasional lainnya, Erwina Safitri dan Aditya Jati ke PON 2012.
Ketiganya dinilai melanggar prosedur sehingga layak jika tak berangkat.



"Sebelum menyalahkan Pengprov, seharusnya melihat
permasalahan secara jernih kenapa tiga pemanah itu tidak masuk dalam
puslatda," kata Sekretaris Umum Pengprov Perpani Jatim, Denny Trisyanto,
Rabu (9/5).



Jatim meloloskan 18 nama ke PON 2012, tidak termasuk ketiga
pemanah itu. Ke-18 atlet itu lolos melalui PraPON, Desember lalu. Di PraPON
tersebut, baik Ika, Erwina, maupun Aditya tidak ikut ambil bagian. Mereka
sebelumnya sudah dijanjikan PB Perpani bisa berpartisipasi di PON 2012 melalui
fasilitas wildcard. Ternyata, sampai sekarang PB Perpani belum juga
merealisasikan janjinya.   



"Seharusnya tanya dulu kepada Kabid Binpres PB Perpani,
Nyoman (Budiana) apakah dia sudah menanyakan ke PB soal anak didiknya yang
dijanjikan mendapat wild card. Kalau dia diam, maka saya tidak akan
mempersoalkan," ujarnya.



Ketiga pemanah itu memang anak didik Nyoman, karena berasal
dari Bojonegoro. Nyoman sendiri saat ini menjabat Ketua Umum Pengcab Perpani
Bojonegoro.



Menurutnya, 18 pemanah yang mendapat tiket ke PON 2012 Riau,
tidak mungkin posisinya diganti oleh pemanah yang tidak pernah mengikuti Pra
PON. Pasalnya, mereka berjuang dari awal sehingga menurut Denny, tidak etis
jika harus mengganti demi memfasilitasi ketiganya.



Apalagi, lanjut Denny, dinilai tidak mengikuti prosedur sehingga
tidak bisa mewakili Jatim di PON 2012 Riau, September mendatang. Ketiganya
bahkan melanggar tiga ketentuan yang telah diterapkan pengprov Perpani Jatim.



"Yang pertama, dia tidak mengembalikan nota kesepahaman
antara atlet dengan pengprov, yang kedua tidak bisa menunjukkan bukti tiket
wildcard ke PON 2012, dan yang ketiga melanggar sistem," ujar Denny.



Nota kesepahaman yang dimaksud adalah surat kesepakatan bagi
para atlet dengan pengprov terkait keikutsertaan mereka di praPON. Ika dan
Erwina disebut Denny turut mengambil surat yang harus mereka tanda tangani
tersebut. Namun berbeda dengan pemanah lain yang langsung mengisi dan
mengembalikan, keduanya malah membawa pulang surat tersebut ke Bojonegoro.
Setelah ditunggu, ternyata mereka tak juga mengembalikan.



"Waktu ditanya kok belum dikembalikan ke pengprov,
katanya masih dipelajari pengcab (Bojonegoro)," terang Denny.
Penandatanganan nota kesepahaman itu sendiri dilakukan 29 Januari lalu.
"Sampai sekarang belum dikembalikan lagi," tambah dia.



Yang kedua soal wildcard dimana ketiganya tak bisa
memperlihatkan. Sedangkan yang ketiga, baik Ika maupun Erwina disebut tidak mau
berlatih di Surabaya dan lebih memilih di Bojonegoro. Hal ini juga disayangkan
Denny karena saat pelatnas memanggil, mereka malah langsung terbang ke Jakarta
untuk berlatih di sana.



"Yang namanya puslatda kan harus terpusat di satu
kota, kalau panahan ya di Surabaya. Kalau mereka tetap ingin di Bojonegoro,
berarti kan sudah melanggar sistem," tegasnya.


Berita Selengkapnya Klik di Sini »

Akses Surabaya.Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat surabaya.tribunnews.com/m/