Rabu, 22 Mei 2013: 03:47:00

Perkenalkan Asma Kulo Rofi’udin

Senin, 23 April 2012 21:03 WIB | Dibaca: 731 | Editor: Tri Hatma Ningsih | Reporter : Tri Hatma Ningsih | Sumber : Surya Cetak
citizen_reporter_rofiuddin.jpg
dokumentasi surya
rofi'udin Al Farez
oleh: Rofi'udin Al Farez
(ravi_alfarez85@yahoo.co.id)

Hampir tiga setengah tahun ini saya tinggal di Magetan. Sampai saat ini, saya masih belajar tradisi dan budaya setempat. Bagi saya, masyarakat Magetan termasuk masyarakat yang sangat Jawa atau Jawa tulen. Pengalaman saya berikut semakin meyakinkan saya atas anggapan tersebut. Malam itu, seperti biasa, warga RT mengadakan pertemuan rutin yang diadakan setiap tanggal 10. Sebagai pendatang, saya tak luput mengikuti pertemuan untuk bersosialisasi dengan lingkungan. Usai membuka acara, ketua RT memperkenalkan saya sebagai warga baru yang berasal dari luar kota. 

Saya tidak tahu kenapa beberapa tokoh RT terlihat kesulitan melafalkan nama saya. Ada yang menyebut Rofi’i, Roifudin, Rofudin, bahkan Saefudin, padahal saya sudah memperkenalkan diri dengan cukup jelas: 'asma kula, Rofi’udin! Atau, mungkin saya berbicara kurang keras, atau mereka mendengar kurang jelas, atau mereka mendengar jelas tetapi sulit melafalkannya. Jangan-jangan mereka kurang familiar dengan nama Arab? 

Saya penasaran dan ingin mengetahui nama-nama mereka. Dari data RT, nama warga hampir semuanya berasal dari bahasa Jawa atau Sanskerta. Dari 37 kepala keluarga, hanya saya dan seorang lagi yang memiliki nama Arab, selebihnya nama Jawa atau Sanskerta. Ternyata bukan hanya dari segi nama warga yang sangat Jawa. Penggunaan bahasa Jawa halus (krama inggil) juga masih sangat kental. Bahkan dalam menulis surat undangan, di beberapa tempat masih menggunakan bahasa Jawa Kuno (bahasa Kawi). Masih kentalnya tradisi dan budaya Jawa yang diugemi masyarakat Magetan di tengah semakin mewabahnya gelombang westernisasi. Orang yang tak paham hal ini disebut sebagai ora njawani. Bahkan untuk mengatakan “saya tidak tahu”, warga Magetan bilang, “aku ora njowo!”

Di samping itu, makna suatu kata juga berbeda dengan makna di daerah asal saya di Jawa Tengah. Saya pernah dibuat bingung ketika diminta atasan saya untuk nggajuli seorang teman. Ternyata kata nggajuli bermakna menggantikan, padahal di Demak, kota kelahiran saya, kata nggajuli berarti menendang dengan tumit. Masak saya diminta menendang teman saya? Hal-hal menggelikan semacam ini tidak terjadi sekali dua kali, sehingga membuat saya kelihatan o’on saat ditanya.

Saya teringat pandangan Gus Dur tentang tiga cluster bahasa Jawa. Menurutnya, cluster pertama meliputi bahasa keraton Yogyakarta dan Surakarta, dan daerah-daerah di sekelilingnya. Bahasa dalam cluster ini masih sangat halus sesuai etika keraton yang paternalistik. Cluster kedua meliputi bahasa daerah-daerah yang lebih jauh dari cluster pertama, seperti Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Semarang, Demak, Wonosobo, dan daerah-daerah di dekatnya. Dialek dan aksennya sedikit lebih “kasar” dibanding cluster pertama. Cluster ketiga merupakan cluster terjauh dari pusat kekuasaan Mataram.

Dalam budaya cluster ini, bisa dikatakan “yang paling kasar”. Di Jawa Tengah, ada bahasa ngapak-ngapak khas Cilacap atau bahasa Jawa khas Tegal yang berakulturasi dengan bahasa Sunda. Di Jawa Timur, bahasa Jawa Suroboyoan mendapat pengaruhnya dari bahasa Madura.




Berita Selengkapnya Klik di Sini »

Akses Surabaya.Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat surabaya.tribunnews.com/m/