Imbas Ikan Mati Massal
Kali Surabaya Sangat Tercemar
"Tidak hanya limbah industri yang harus diperhatikan pemerintah, tapi juga limbah domestik dari rumah tangga,
Direktur Ecoton, Prigi Arisandi mengatakan, dari penelitian yang dilakukan Ecoton, dipastikan kondisi dan kualitas air di Kali Surabaya sudah tercemar dan tidak layak dikonsumsi, khususnya untuk manusia. Itu merupakan imbas dari perusahaan yang membuang limbah seenaknya.
"Tidak hanya limbah industri yang harus diperhatikan pemerintah, tapi sumbangan limbah-limbah domestik dari rumah tangga, juga menyumbang besar terjadinya penurunan kualitas air Kali Surabaya. Untuk itu, perlu ada SOP (Standar Operasional Prosedur), untuk menindak pembuang limbah di Kali Surabaya," tegas Prigi, Selasa (23/4/2012).
Menurut Prigi, ikan mati massal di Kali Surabaya itu, merupakan indikator alami atau biologis, kalau kondisi Kali Surabaya sudah mati dan rusak, sehingga mempengaruhi daya tahan dari tubuh ikan. "Selain itu, ada dugaan kuat, kematian ikan-ikan itu, karena pencemaran limbah, yang dibuang industri di sepanjang Kali Surabaya, waktu hujan turun dini hari tadi," kata Prigi.
Senin (23/4/2012) pagi, warga Surabaya dikejutkan dengan matinya ikan-ikan di Kali Surabaya. Kematian ikan itu terjadi lagi, setelah pada periode 2007-2011 lalu, tidak pernah terjadi ikan mabuk atau mati massal atau dalam bahasa Jawa dikenal sebagai munggut. “Fakta riil yang terjadi di Kali Surabaya itu, merupakan indikasi kuat, kalau Kali Surabaya sudah overload," sambung Prigi.
Sementara Ketua Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan (KJPL) Indonesia , Teguh Ardi Srianto menambahkan, matinya ikan-ikan di Kali Surabaya itu, bukti nyata kalau kinerja Jasa Tirta sebagai pengawas kualitas air Kali Surabaya, tidak maksimal. "Kalau Jasa Tirta berani menaikkan harga air Kali Surabaya yang diambil beberapa industri dan PDAM di sepanjang Kali Surabaya, kenapa mereka tidak tanggung jawab, untuk melakukan pengawasan dan kontrol kualitas airnya," ujar Teguh.