Surya/

Dr Aucky Hinting PhD Sp And, Seniman Berbasis Bayi Tabung

Nama Dr Aucky Hinting sebagai dokter ahli andrologi yang bergerak dibidang bayi tabung, sudah dikenal di seluruh Indonesia. Apalagi ketika salah sau pasiennya yang berhasil adalah artis dangdut fenomenal Inul Daratista. Tapi dibalik aktivitasnya di bidang Assisted Reproductive Technology (ART) atau Teknologi Reproduksi Berbantu, dalam empat tahun terakhir ini, dr Aucky berhasil menghasilkan Art atau seni yang sesungguhanya.

Menjadi seniman bukanlah cita-cita awal pria kelahiran Surabaya, 7 Agustus 1953 itu. Apalagi selama 25 tahun terakhir, suami dari Devi Aswari ini sehari-harinya banyak berkutat dengan biologi reproduksi dan andrologi (kesehatan reproduksi pria). Mulai dari praktek sebagai dokter, dosen di Fakultas Kedokteran Unair, hingga berkutat di laboratorium reproduksi.

Tapi diakuinya, bila ayah dua anak dan kakek dari satu cucu ini memiliki minat pada seni. Dan ketika hasrat berkesenian itu muncul di tahun 2007, dr Aucky memilih untuk menampilkan karya-karya seni yang didapatnya selama berkecimpung di dunia medis bayi tabung itu.

”Jadi dari istilah kedokteran yang ada, apa yang sudah saya kerjakan selama 25 tahun itu ternyata juga ART. Yang selanjutnya saya tampilkan lagi sebagai seni atau art yang sesungguhnya,” jelasnya ketika ditemui Rabu (16/11/2011) jelang pembukaan pameran karya seninya di galeri Ambrosia Hall, Resto Nine, Jl Mayjen Sungkono.

Ada 16 lukisan, tujuh patung, dua instalasi, dua video art dan lebih dari 30 sketsa dan coretan yang ditampilkan dr Aucky di pameran itu. Seluruhnya bertemakan tentang kegiatan sehari-harinya, yaitu proses bayi tabung.

ART atau teknologi bayi tabung sendiri baginya adalah sesuatu seni dimana ada mata dan otak yang bekerja untuk menghasilkan sebuah karya embrio. Nantinya embrio itulah yang terbentuk menjadi sosok anak yang sangat didambakan bagi pasangan yang sudah lama belum dikaruniai Tuhan secara alami.

”Tapi bayi tabung tetaplah kuasa Tuhan. Kami hanya membantu saja dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Tapi keberhasilannya hanya Tuhan yang bisa,” ungkap dr Aucky sambil menyebut sudah ada sekitar 5.000 pemohon bayi tabung tapi yang berhasil hanya sekitar 2.000.

Dalam karya seni yang dipamerkan, banyak tergambar alat-alat seperti mikroskop, inkubator, dan apa yang terlihat di bawah mikroskop, seperti sperma, sel telur, dan di dalam inkubator adalah embrio, serta imajinasi tentang hasil karya dari teknologi reproduksi berbantu.

Karya utama yang paling tampak adalah seni instalasi berupa bentuk patung seorang wanita dalam posisi tidur terlentang dengan kaki terbuka. Patung itu dibuat dari sekitar 10.000 botol bekas obat suntik hormon yang diberikan kepada wanita saat menjalani proses bayi tabung.

”Obat hormon itu disuntikan untuk memicu indung telur agar menghasilkan banyak sel telur dalam proses bayi tabung. Pesan dari karya ini adalah bagaimana pengorbanan wanita untuk menjadi subur dan memperoleh keturunan dengan menjalani penyuntikan hormon setiap hari,” jelas dr Aucky.

Dan setelah telur dinyatakan matang, masih harus menjalani pengambilan sel telur pada posisi yang ditampilkan pada citra itu. Proses itu harus dijalani, meski sekalipun misalnya kelainan yang menyebabkan tidak subur karena faktor sperma suami. Tersirat juga banyaknya pemakian obat suntik yang merupakan bagian dari industri yang bernilai jutaan dolar di dunia untuk mengatasi kesuburan

”Obat suntik hormon ini harganya mahal. Ini yang membuat proses bayi tabung mahal,” ungkap dr Aucky.

Selain karya instalasi itu, pameran juga menampilkan lukisan tentang proses pembuatan bayi tabung. Goresan sederhana karya dr Aucky, dengan mengambil judul ART in Action.

Menampilkan kegiatan tim bayi tabung mulai dari dokter spesialis kebidananm spesialis embriologi, spesialis adrologi, dan lain sebagainya. Dr Aucky menjelaskan proses awal adalah pengambilan sel telur matang dari seorang wanita. Sel telur itu kemudian dipertemukan dengan sperma dalam waktu kurang dari 10 menit.

Dalam pertemuan itu, dilakukan dibawah mikroskop. Di bawah mikroskop, keduanya tidak dibiarkan begitu saja, melainkan sperma dimasukkan ke dalam inti sel telur. Kemudian dipindahkan ke dalam tabung dan inkubator CO2. Bila di dalamnya telah terbentuk embrio, yang waktu penyimpananya antara tiga hingga lima hari, akan dimasukkan lagi ke rahim wanita untuk berkembang menjadi janin.

Sedangkan dari sekitar 30 goresan dan sketsa yang juga ikut dipamerkan, dr Aucky menggunakan dari goresan dan coretan yang ditampilkan di berbagai hal kertas. Kertas memo, termasuk kertas amplop dari undangan. Semua digoreskan dari apa saja yang ada di mejanya.

“Biasanya ada yang untuk menjelaskan pada pasien atau mahasiswa. Tapi ada pula yang saya gores dan sketkan secara sadar. Soal tema, tetap apa-apa yang sehari-hari saya hadapi,” lanjutnya.

Sementara itu, sebagai kuratornya, Suwarno Wisetrotomo, dari ISI Jogjakarta, mengatakan apa yang ditampilkan dr Aucky ini adalah seni yang menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan kompleksitas persoalan kemanusian. Salah satunya adalah tentang coretan dr Aucky yang menjelaskan bagaimana sperma bisa membuahi sel telur.

“Yaitu dengan mengumpamakan sebagai mobil balap di lintasan F1. Ini menarik sekali dan beda,” kata Suwarno.

Yah, dalam sketsa itu, gambar spermaditampilkan sebagai mobil balap lengkap dengan pangkalnya yang berhelm. Selanjutnya masuk ke dalam lintasan berupa alat reproduksi wanita, termasuk di mana sel telur itu berada. Sperma digambarkan sebagai mobil balap yang harus cepat bertemu dengan sel telur untuk dibuahi dan dilanjutkan dengan menjadi embrio.

Penulis: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help