Senin, 22 Desember 2014
Surya
Home »

Akil: Saya atau Dia yang Masuk Penjara

Jumat, 10 Desember 2010 13:18 WIB

JAKARTA -SURYA- Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar mengatakan dirinya memutuskan melaporkan Bupati Simalungun JR Saragih beserta dua kuasa hukumnya dalam sengketa Pilkada, Refly Harun dan Maheswara Prabandono, untuk membuktikan apakah dugaan penyuapan dan pemerasan di MK itu benar atau tidak. Namun, ia memastikan tak pernah sedikitpun menerima suap, apalagi memeras dalam menyelesaikan sengketa pilkada Kabupaten Simalungun. "Hanya dua kemungkinannya, mereka yang masuk penjara atau saya yang masuk penjara. Kalau bisa dibuktikan, saya bersedia masuk penjara. Tidak ada urusan. Tapi kalau tidak, mereka yang menuduh harus siap," tegasnya dalam keterangan pers di Gedung MK, Jakarta, Jumat (10/12/2010). Akil mengatakan, temuan tim investigasi internal MK yang diketuai Refly Harun menyebut namanya sebagai hakim yang memeras dan menerima suap dalam penyelesaian kasus sengketa Pilkada Simalungun. Dalam sidang sengketa pilkada Kabupaten Simalungun, Akil memang bertindak sebagai ketua panel. Tim investigasi menyebut, Saragih meminta diskon Rp 1 miliar dari lawyer fee Rp 3 miliar yang ditagih Refly dan Maheswara. Menurut Saragih, uang Rp 1 miliar itu akan diberikan kepada hakim MK yang sudah menangani perkaranya. Kronologis ini pula yang dibeberkan Refly dalam tulisannya di kolom opini Harian Kompas, 25 Oktober lalu. Akil juga disebut bertemu langsung dengan Saragih di salah satu rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan dan kediaman pribadi Saragih di kawasan Pondok Indah. Akil juga diduga menerima uang yang disebut dititipkan melalui sopir Saragih. Akil membantah pernah menerima uang tersebut. Bertemu atau berhubungan saja pun tidak pernah. Dalam siaran televisi nasional tadi pagi, Saragih juga telah membantah telah dimintai keterangan oleh tim investigasi internal MK. "Tim harusnya bisa memeriksa sumber Bupati Simalungun, tapi itu tidak dilakukan, padahal stasiun televisi bisa melakukan itu. Menurut saya, laporan investigasi ini masih terlalu sumir untuk menuduh seorang melakukan tindak pidana. Jadi kita serahkan saja kepada KPK," tandasnya.

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas