• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 22 Oktober 2014
Surya

Masih Misteri, Penjepret Foto Legendaris Bung Tomo

Selasa, 9 November 2010 07:05 WIB
Pada setiap peringatan Hari Pahlawan 10 November, nama Sutomo atau Bung Tomo hampir dipastikan tak pernah luput dari pembicaraan. Biasanya, yang menarik perhatian adalah pidatonya yang menggelora untuk mengobarkan semangat arek-arek Suroboyo melawan ultimatum pasukan Sekutu (Inggris) yang diboncengi Belanda (NICA) pada 10 November 1945. Mujib A/Musahadah surabaya Soal pidato itu kerap dihubungkan dengan foto legendaris Bung Tomo yang sedang berorasi dengan tangan kanan menunjuk ke atas dan sorot mata tajam, serta mimik wajah geram. Pada latar belakangnya, ada payung bergaris-garis, dan sebuah corong dekat mulutnya. Ternyata, antara foto hitam putih dan pidato menggelora Bung Tomo untuk menyemangati perlawanan terhadap Sekutu itu, tidak ada hubungannya. Menurut sejarawan dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Aminuddin Kasdi yang banyak mengulas perang 10 November 1945 dalam beberapa artikelnya, kurang jelas pada situasi dan acara apa foto itu dijepret. Namun, diyakininya bahwa foto itu tidak dibuat pada 10 November 1945 bersamaan dengan disampaikannya pidato heroik Bung Tomo –yang kelahiran Blauran, Surabaya, 3 Oktober 1920. “Aneh kalau foto itu dijepret saat peristiwa 10 November 1945 karena perlawanan segenap warga Surabaya saat itu terjadi secara spontan. Sementara, foto itu terlihat seakan dijepret dalam situasi tenang dan disengaja,” kata Aminuddin kepada Surya pekan lalu. Untuk diketahui, meletusnya perlawanan pada 10 November itu terkait dengan ultimatum Sekutu kepada para pejuang Indonesia, khususnya di Surabaya, agar menyerahkan diri dan senjatanya dengan mengangkat tangan di atas kepala. Ultimatum diberikan oleh Mayor Jenderal Robert Mansergh setelah tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby (pimpinan tentara Sekutu/Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30 WIB di sekitar Jembetan Merah. Mansergh merupakan pengganti Mallaby, dan menuduh bahwa yang menewaskan Mallaby adalah pejuang Indonesia meskipun hal itu hingga kini belum jelas karena tewasnya Mallaby terjadi dalam situasi baku tembak yang kacau antara pejuang Indonesia dan pasukan Inggris. Putra kedua Bung Tomo, Bambang Sulistomo, membenarkan bahwa ayahnya tidak sempat diabadikan pada perang 10 November 1945. Sebab, peran Bung Tomo yang penting dalam perlawanan kala itu membuat keberadaannya selalu dirahasiakan. Dalam suatu kesempatan kepada Surya, Sulistinah (istri Bung Tomo) pernah mengakui juga bahwa foto itu tidak dijepret di Surabaya. Pernyataan Sulistinah ini diperkuat dengan tidak adanya satu pun surat kabar yang memuat foto Bung Tomo berpayung ini pada tahun 1945. Foto tersebut pertama kali muncul dalam majalah dwi bahasa, Mandarin dan Indonesia, Nanjang Post, edisi Februari 1947. Di bawah foto itu dijelaskan bahwa Bung Tomo –yang pada 2008 lalu dinobatkan sebagai pahlawan nasional-- sedang berpidato di sebuah lapangan di Mojokerto dalam rangka mengumpulkan pakaian untuk korban Perang Surabaya. Saat itu masih banyak warga Surabaya yang bertahan di pengungsian di Mojokerto dan jatuh miskin. Sementara Surabaya sedang diduduki pasukan Sekutu. Lantas siapa yang memotret Bung Tomo sehingga foto hitam putih tersebut seperti sudah mewakili cerita tentang kegagahan perjuangan 10 November? Sulistinah menyebut nama Mendur, wartawan foto IPPHOS (Indonesia Press Photo Service) yang mengambil gambar suaminya. Nama lengkapnya Alexius Mendur (1907-1984), pendiri IPPHOS. Mendur adalah legenda fotografi era perang. Dialah yang mengabadikan hampir semua peristiwa bersejarah periode 1945-1949. Dia satu-satunya fotografer yang memotret pembacaan proklamasi Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Mendur juga bukan orang asing bagi Bung Tomo. Mereka bersahabat sejak lama karena sama-sama wartawan. Di zaman Jepang, Bung Tomo adalah pemimpin redaksi Kantor Berita Domei. Namun Suparto Brata, 78, salah satu saksi sejarah pertempuran Surabaya punya pendapat lain. Ia mengatakan, penjepret foto legendaris Bung Tomo masih bisa diperdebatkan. Apakah si Mendur fotografer IPPHOS ataukah Abdul Wahab Djojowirno, fotografer Kantor Berita Antara (di zaman Jepang, namanya Suara Asia) yang bertugas di Surabaya. Menurut Suparto, arek Suroboyo kelahiran, 27 Februari 1932 ini, Abdul Wahab adalah fotografer yang juga mengabadikan peristiwa heroik di Surabaya, yakni penyobekan bendera Belanda yang dikibarkan di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) Tunjungan, serta sejumlah foto heroik lainnya di Surabaya. “Jadi siapa penjepret foto pidato Bung Tomo yang heroik sebenarnya, menurut saya masih misterius,” tegas Suparto kepada Surya, Senin (1/11) lalu. Waktu bergolaknya pertempuran 10 November itu, Suparto --yang menulis buku ‘Pertempuran 10 November 1945: Citra Kepahlawanan Bangsa Indonesia di Surabaya` bersama Aminuddin Kasdi, Soedjijo, Suripan Sadi Hutomo, dan Budi Darma— masih berusia 13 tahun. “Akhir tahun 1950-an saya pertama kali melihat foto Bung Tomo itu,” jelas Suparto yang dikenal dengan karya sastra berbahasa Jawa-nya. Untuk mengurai teka-teki tersebut, Suparto menyarankan dilakukannya penelitian ulang guna memastikan siapa sebenarnya penjepret foto Bung Tomo. Yang harus diwaspadai, pesan Suparto, adalah kemungkinan adanya klaim dari pihak tertentu. Pasalnya, saat ini kerap muncul pihak-pihak yang mengaku sebagai penjepret foto bersejarah di Indonesia. Padahal foto yang diklaim adalah hasil repro alias salinan.
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
124794 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas