Longsoran Cianjur Jadi Kuburan Massal

Cianjur - Surya- Pencarian dan evakuasi korban longsor di Bukit Hanafi, Kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng dan Desa Panoyaman, Kecamatan Cibinong, Cianjur, Jawa Barat, akhirnya dihentikan lebih awal. Pada hari kesembilan atau hari terakhir pencarian, Kamis (10/9), tim evakuasi pasrah. Mereka tidak lagi mencari korban lantaran sulitnya medan. Diduga masih terdapat 42 korban yang tertimbun di longsoran akibat gempa bumi tersebut. Longsoran berupa material batu dan tanah setebal 15-30 meter itu kini dijadikan kuburan masal. Salat gaib pun dilakukan di lokasi longsoran. "Di atas sudah tidak ada lagi yang mencari korban," kata anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD), Neneng, di Cianjur, Kamis (10/9). Sebelumnya, BPBD dengan Badan SAR Nasional, TNI/Polri, serta pihak pemda setempat sepakat batas akhir pencarian pada hari Kamis (10/9) pukul 16.00 WIB. Namun, di lokasi longsor, sejak Kamis pagi tak satu pun petugas yang melakukan proses pencarian korban. Mesin eskavator dan bekho juga sudah tidak berada di lokasi sejak Kamis pagi. Di lokasi longsor hanya ada sejumlah warga yang sengaja datang untuk melihat sisa longsor. Bahkan, mereka sesekali mengambil foto dengan latar belakang tebing Hanafi. Anggota Brimob dari Polda Jabar juga sudah ditarik lebih awal. Lantaran mereka akan ditugaskan untuk operasi ketupat pada Lebaran. Kamis sore, 50 warga bersama tim evakuasi, perwakilan pemda, perangkat desa dan kecamatan, polisi serta anggota TNI melakukan salat gaib di atas longsoran yang telah menjadi kuburan missal tersebut. Seorang ibu bernama Dede Supriyanti, 39, terlihat menangis sepanjang mengikuti doa bersama dan salat ghaib di lokasi longsor. Ia mengaku terus terbayang-bayang wajah anaknya, Muhammad Ridwan Said, 11, yang jasadnya belum diketemukan di lokasi longsor itu. "Kalau sampai sekarang belum ditemukan, berarti anak saya masih terkubur di situ," katanya meneteskan air mata. Sebelum longsor terjadi, Wawan, panggilan anaknya, sedang bermain playstation (PS) yang lokasinya tepat berada di bawah bukit Hanafi yang longsor. "Di tempat itu banyak anak-anak yang saat itu main PS," tutur Dede. Dede mengaku sempat tak bisa tidur dan tak enak makan, karena masih teringat terus wajah anaknya. Bahkan, satu foto anaknya berukuran 10R selalu ia bawa ke mana saja.Meski demikian, Dede mengaku telah ikhlas menerima kenyataan anaknya tak ditemukan dan terkubur secara massal. Menurutnya, tragedi ini adalah cobaan dari Tuhan yang tak bisa terelakkan. "Anak itu titipan Tuhan. Saya bisa terima dan ikhlas atas kejadian ini. Dan saya harus bisa melanjutkan hidup saya," pungkasnya. persdanetwork/cr2/mun/pras
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved