Wanita Ngidam Pun Senang Menyantapnya , Ampo Hanya Bisa Dibuat dari Tanah Liat Persawahan

TUBAN - SURYA-Sebagian warga Tuban senang menyantap tanah liat untuk makanan ringan, alias ampo. Menurut mereka, camilan dari tanah liat --yang diirisi kecil-kecil dan dibakar--ini terasa gurih, bahkan bisa sebagai obat penghilang rasa nyeri. Juga, disukai para wanita yang sedang mengidam. Dilihat dari bentuknya, camilan berwarna hitam seperti wafer stick kecil ini sama sekali tidak kentara bila terbuat dari tanah liat. Namun, saat digigit, dan kunyah, terasa jelas bahwa makanan ini adalah tanah liat. “Namanya juga tanah liat, ya begini ini rasanya,” kata Fajar, 26, pemuda asal Desa-Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, yang sering menyantap ampo, Minggu (21/6). Seperti biasa, ketika ingin makan ampo, Fajar datang ke Pasar Baru Tuban untuk membeli ampo di sana. Tetapi, Minggu (21/6) siang ia tidak bisa mendapatkan camilan tersebut di pasar lantaran sudah habis terjual. Saat itu, sang penjual memberitahu, kalau perlu ampo bisa beli langsung membeli ke orang yang membuatnya, Mbok Rasimah, 60, warga Bektiharjo, Semanding, Tuban. Tanpa pikir panjang, Fajar mengendarai sepeda motor bebeknya menuju rumah Mbok Rasimah. Setelah beberapa kali bertanya kepada warga, Fajar akhirnya menemukan sebuah rumah dari bambu dan kayu, yang di depannya terdapat pawon dan peralatan memproduksi ampo. Namun ternyata Mbok Rasimah juga sedang kehabisan ampo lantaran semua sudah disetorkan ke para penjual di pasar. Kendati demikian, wanita tua berbaju kebaya itu bersedia membuatkan ampo untuk Fajar, yang datang jauh-jauh dari Rengel. “Saya buatkan dulu sebentar. Ditunggu, ya, mas, tidak lama, kok. Paling hanya 15 menit,” ujar Mbok Rasimah, kemudian mengeluarkan peralatan produksinya. Tampak gumpalan tanah liat --yang diambil dari persawahan-- yang kemudian dikikis dengan bambu berbentuk seperti belati sehingga menghasilkan gulungan-gulungan tanah liat kecil bak wafer stick. Setelah dianggap cukup, gulungan tanah liat itu kemudian dipanggang dengan sebuah cawan di atas pawon dengan api yang tidak terlalu besar. Tak sampai lama, proses pembuatan ampo selesai dan bisa disajikan. *** Menurut Mbok Lasimah, hanya tanah liat dari persawahan yang bisa digunakan sebagai bahan ampo. Sebab, tanah liat jenis ini tidak mengandung batu sekaligus sedikit kadar airnya. “Dari dulu saya sudah membuat ampo, wong memang makanan ini tradisi dari nenek moyang,” ujarnya, di sela kesibukan membuat ampo di halaman rumah. Dia mengakui saat ini tak warga yang senang mengkonsumsi camilan dari tanah liat tersebut tak sebanyak pada masa lampau. Padahal, menurut Mbok Lasimah, rasa ampo renyah dan gurih --enak dimakan sambil bersantai di rumah. Saban hari, Mbok Lasimah rata-rata membuat ampo sekitar 10 kilo. Jumlah produksinya terus menurun ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Ampo buatan Mbok Lasimah biasa dijual dengan harga Rp 3 ribu per kilogram. Selain untuk makanan ringan, ampo juga diyakini bisa digunakan sebagai obat penghilang rasa nyeri. “Coba saja kalau tidak percaya. Kalau tulang-tulang sampean nyeri, saya jamin sembuh setelah mencoba ini,” ujar Lasimah, sambil menawarkan ampo buatannya. Biasanya, sambung Mbok Lasimah, yang datang ke rumahnya untuk minta untuk dibuatkan ampo adalah para wanita yang sedang mengidam. “Nggak tahu kenapa, di sini banyak wanita yang ngidam ampo saat hamil muda,” tambahnya./M. TAUFIK
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved