Pahlawan Supriyadi Meninggal Terpeleset, Teka-teki PETA Tak Terjawab

Semarang-Surya-Benarkah Andaryoko Wisnuprabu adalah pahlawan nasional toko pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar? Semua teka-teki itu kini ia bawa serta ke alam baka. Lelaki berumur 89 tahun, ayah dari empat anak, kakek dari delapan cucu, dan buyut dari enam cicit itu meningal dunia pada Rabu (3/6) malam sekitar pukul 21.30 WIB. Ia terjatuh di kamar mandi dan pingsan serta akhirnya meninggal dunia di rumahnya di Jalam Mahesa Raya 1, Kakancan Mukti, Pedurungan, Semarang. Yang pasti, Romo Andaryoko -- begitu ia dipanggil oleh kalangan pelestari budaya Jawa di Semarang dan Blora -- pada Agustus 2008 silam membuka rahasia dirinya kepada umum. Ia mengaku sebagai tokoh Supriyadi, pahlawan yang dikabarkan hilang (kemudian dianggap tewas) dalam pemberontakan melawan tentara Jepang di Blitar pada 14 Agustus 1945. Ketika tiba-tiba ia mengaku sebagai Supriyadi, maka gegerlah kalangan sejarawan, para veteran pejuang, dan juga anggota PETA yang masih hidup. Apalagi ketika sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Dr Baskara T Wardaya menulis semua pengakuan dan keterangan Andaryoko dalam buku “Mencari Supriyadi, Kesaksian Pengawal Utama Bung Karno”. Buku setebal 230 halaman terbitan Galang Press Yogyakarta itu lantas menyulut polemik. Banyak yang menyangsikan Andaryoko sebagai Supriyadi, maklum saja sebelumnya setidaknya sudah ada 7 orang yang mengaku sebagai Supriyadi. Namun semuanya terbukti palsu. Lalu Andaryoko? Lelaki yang mengaku lahir di Salatiga ini justru melengkapi dirinya dengan berbagai foto tua yang menunjukkan kedekatannya dengan Presiden RI kala itu, Bung Karno. Ia berada di ring satu pemerintahan kala itu sehingga beberapa orang pun meyakini dialah Supriyadi yang asli. Terlebih, Bung Karno juga mengakui kisahnya dan langsung memanggilnya Supriyadi. Akso Prabu Wisnuaji, salah satu anak Andaryoko, menjelaskan bahwa ayahnya dalam keadaan sehat hingga akhir hayatnya. Bahkan pada Rabu (3/6) sore, Andaryoko sempat menghadiri rapat di Perkumpulan Seni dan Budaya Sobokarti Semarang. Kakek ini menjabat sebagai ketua perkumpulan pelestari budaya Jawa tersebut. "Bapak pulang naik taksi. Beliau mengatakan lapar dan minta dibelikan nasi goreng. Namun pada pukul 21.30 WIB ketika Bapak ke kamar mandi, beliau terjatuh dan pingsan. Bapak tidak sadar lagi hingga ia meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Umum Ketileng,” ujar Akso. Andaryoko mulai membuka diri secara tersamar bahwa ia adalah Supriyadi seja April 2008 dalam sebuah acara bedah buku di Wisma Vina House Semarang. Kala itu ia bercerita panjang lebar soal kisah penculikan Bung Karno oleh kalangan pemuda menjelang Proklamasi Kemerdekaan. Gaya dia bercerita seolah ia adalah saksi mata sekaligus pelaku dalam peristiwa bersejarah itu. Hanya saja kala itu ia belum mengaku terus terang bahwa dirinya-lah Supriyadi. Ia baru terbuka kepada umum dalam bedah buku “Mencari Supriyadi, Kesaksian Pengawal Utama Bung Karnon” yang ditulis oleh Dr Baskara, sejarawan lulusan Universitas Marquette, Wisconsin, AS. Di sisi lain, sikap kakek ini kepada wartawan juga sangat terbuka. Ia menjawab semua pertanyaan wartawan, baik yang bertanya dengan nada keras tidak percaya, sampai dengan yang bertanya ingin menyelidiki kebenaran pengakuannya. Di rumahnya di Jalan Mahesa Raya Nomor 1, Pedurungan, Semarang; Andaryoko selalu menunjukkan foto-foto lama tentang dirinya dan juga foto bersama Presiden RI Soekarno. Sementara untuk membuktikan dirinya benar-benar Supriyadi, Andaryoko mau dipertemukan dengan keluarga Supriyadi di Blitar, Jawa Timur pada akhir tahun 2008. Dalam pertemuan itu keluarga Supriyadi tidak mengakui Andaryoko sebagai Supriyadi. Tetapi Andaryoko bersikeras bahwa dirinya adalah Supriyadi. Baskara yang melayat di rumah duka menjelaskan, soal sikap pro dan kontra terhadap pengakuan Andaryoko itu tidak masalah. "Tugas sejarawan adalah menyampaikan pengakuan seseorang. Dengan begitu maka fakta yang terkumpul makin banyak. Sejarah memang harus kita cari bersama. Setidaknya dengan pengakuan Eyang Andaryoko itu maka ada sumber sejarah lain tentang Supriyadi tersebut," kata Baskara yang membacakan kisah perjalanan Andaryoko Supriyadi saat prosesi pemakamannya. Supriyadi dikenal sebagai tokoh pemberontakan PETA di Blitar, yang terjadi pada 14 Februari 1945. Pada waktu itu, Supriyadi anggota tentara PETA, sebuah pasukan tentara bentukan Jepang yang beranggotakan orang-orang Indonesia. Karena kesewenangan tentara Jepang terhadap tentara PETA dan rakyat Indonesia, Supriyadi gundah. Ia lantas memberontak bersama sejumlah rekannya sesama tentara PETA. Namun pemberontakannya tidak sukses. Pasukan pimpinan Supriyadi dikalahkan oleh pasukan bentukan Jepang lainnya, yang disebut Heiho. Kabar yang berkembang kemudian, Supriyadi tewas. Tetapi, hingga kini tidak ditemukan mayat dan kuburannya. Oleh karena itu, meski telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah, keberadaan Supriyadi tetap misterius hingga kini. Sejarah yang ditulis pada buku-buku pelajaran sekolah pun menyebut Supriyadi hilang.embun
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved