• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 1 Oktober 2014
Surya
Home »

Harta Prabowo Rp 1,7 Triliun

Selasa, 19 Mei 2009 09:08 WIB
Jakarta-Surya-Sehubungan dengan pencalonan mereka sebagai pejabat negara, para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) mulai melaporkan harta dan kekayaannya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Meski belum diumumkan nilainya, diperkirakan bahwa cawapres Prabowo Subianto merupakan calon terkaya karena harta-kekayaannya sekitar Rp 1,7 triliun. Jumlah harta Prabowo sebesar itu disebutkan oleh Ahmad Muzani, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra, usai menyerahkan laporan harta-kekayaan Prabowo ke Direktorat LHKPN (Laporan Harta dan Kekayaan Penyelenggara Negara) di Gedung KPK Jakarta, Senin (18/5). Meski demikian, Ahmad menegaskan bahwa kekayaan sebanyak itu tidak seluruhnya berupa uang tunai. "Totalnya memang antara Rp 1,6 hingga Rp 1,7 triliun. Namun, sebagian besar berupa aset perusahaan, sekitar 65 persen," ujar Ahmad. Aset itu tersebar di 27 perusahaan di dalam dan luar negeri. Ahmad menjelaskan bahwa di dalam negeri, Prabowo memiliki perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan pertambangan batu bara. Dia juga memiliki saham perusahaan di Argentina dan Prancis. Menurut Ahmad, uang tunai berbentuk rupiah dan dolar yang dimiliki Prabowo `hanya` senilai Rp 28 miliar. "Ada juga yang berupa rekening dalam bentuk dolar, antara lain tersimpan di Malaysia," kata Ahmad. Prabowo, Ketua Dewan Pembina Gerindra, juga memiliki kekayaan dalam bentuk perhiasan dan peternakan sekitar 84 ekor kuda. "Mobil setidaknya ada 10, mulai motor sampai mobil Land Cruiser dan Lexus. Pesawat pribadi tidak punya," kata Ahmad. Dari mana harta Prabowo sebanyak itu? Di masa lalu Prabowo memang lebih dikenal sebagai mantan Komandan Jenderal Kopassus, Panglima Kostrad serta menantu mantan (mendiang) Presiden Soeharto. Sebagai tentara, tentu gajinya sudah dipastikan jumlahnya. Namun, ketika sudah pensiun dari dinas TNI, Prabowo aktif menceburkan diri dalam kegiatan bisnis. Dunia itu bukan hal asing baginya, karena ayahnya Profesor Sumitro Djojohadikusumo juga seorang pengusaha selain dikenal sebagai pakar ekonomi. Begitupun adiknya Hashim Djojohadikusumo, yang menurut majalah GlobeAsia pada Juni 2008, termasuk di antara 150 orang terkaya di Indonesia. Hashim diketahui aktif menyokong kegiatan politik abangnya. “Ya, cukuplah untuk sampai dia menang,” jawab Hashim, pemilik Grup Tirtamas, ketika suatu kali ditanya tentang jumlah harta Prabowo. Kiprah Prabowo di dunia bisnis masih berlangsung hingga kini saat dia jadi cawapres. Menurut situs pribadi Prabowo (www.prabowosubianto.info), sampai sekarang pria kelahiran 17 Oktober 1951 ini masih tercatat sebagai komisaris perusahaan migas Karazanbasmunai di Kazakhstan, juga sebagai Dirut PT Tidar Kerinci Agung (perusahaan produksi minyak kelapa sawit), Dirut PT Nusantara Energy (migas, pertambangan, pertanian, kehutanan dan pulp) serta Dirut PT Jaladri Nusantara (perusahaan perikanan). Karena kekayaan Prabowo itulah, sempat ada selentingan bahwa Prabowo bakal membiayai sebagian besar kampanye pasangan Megawati-Prabowo (Mega-Pro), yang diusung PDIP-Gerindra, untuk pilpres. Tetapi, rumor itu dibantah tegas oleh Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon. "Pendanaan kampanye akan dibiayai secara gotong royong dari PDIP dan Gerindra, oleh kader partai, caleg terpilih. Semua akan dibicarakan lebih lanjut. Gerindra tidak yang terbesar menanggungnya. Intinya, soal biaya secara gotong royong," ujar Fadli, yang juga Sekretaris Umum Tim Kampanye Nasional Mega-Pro, Senin (18/5) sore, di Jakarta. Meski begitu, koalisi PDIP-Gerindra mengakui pihaknya tidak akan segan-segan untuk mencurahkan dana besar pada iklan, terutama di televisi, selama kampanye pilpres, guna mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap Mega-Pro. "Paling banyak pasti di udara, di iklan. Itu paling efektif untuk masa kampanye pilpres yang hanya 45 hari. Pilpres kampanyenya pendek, jadi bagaimana dengan cepat menyampaikan ide, gagasan, dan rencana program kerja ke depan," ujar Sekjen PDIP Pramono Anung. KPK akan melakukan klarifikasi atas harta yang telah dilaporkan oleh para capres-cawapres kepadanya pada 19 dan 20 Mei ini. Tetapi, KPK belum tahu kapan kekayaan mereka akan diumumkan ke publik. Yang jelas, yang akan mengumumkan adalah para capres-cawapres sendiri bukan KPK. "Yang akan mengumumkan dan wajib menyampaikan LHKPN masing-masing capres adalah orang yang bersangkutan. Kapan jadwal diumumkan, kita akan koordinasikan dengan masing-masing capres-cawapres" kata Wakil Ketua KPK, Haryono Umar di Jakarta, Senin (18/5). Berdasarkan penulusuran atas data harta-kekayaan capres-cawapres sebelumnya, diprediksi Jusuf Kalla adalah calon terkaya kedua setelah Prabowo. Kemudian disusul Megawati Soekarnoputri, Wiranto, Boediono dan SBY. Hanya saja, karena angka-angka kekayaan mereka bukanlah yang mutakhir, maka terjadinya perubahan pasti terjadi. Harta Boediono, misalnya, total sebesar Rp 18,66 miliar per awal tahun 2008 sebelum dia diresmikan sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI). Namun setelah Boediono jadi Gubernur BI dengan gaji Rp 165 juta per bulan sejak Mei 2008, diperkirakan jumlah kekayaannya akan meningkat. Pengamat media Ismed Hasan Putro mengatakan, memiliki kekayaan besar memberi keuntungan tersendiri bagi Prabowo atau Jusuf Kalla. Dengan kekayaan yang berlebih, mereka tak perlu meminjam dana dari pihak-pihak tertentu untuk mendukung anggaran kampanyenya, yang buntutnya para peminjam itu akan meminta balas budi di kemudian hari (jika calonnya terpilih). “Bagaimanapun, menyumbang dana kampanye tidak gratisan. Penyumbang pasti meminta imbalan jika calon yang didukungnya terpilih. Imbalan bisa berupa kebijakan pemerintah nanti, yang menguntungkan penyumbang dana itu,” kata Ismed yang juga Ketua Masyarakat Profesional Madani, kepada Surya kemarin Memiliki keunggulan dana juga berarti kemampuan si calon untuk menggalang opini masyarakat lewat gencarnya iklan, menjadi lebih besar. Terutama lewat TV, yang terbukti paling efektif. “Pembangunan opini lewat media, khususnya televisi, sangat berperan dalam mendongkrak popularitas calon,” jelas Ismed. Meski demikian, imbuh dia, banyaknya dana kampanye dari para calon yang kaya tak akan berpengaruh besar jika iklan-iklan yang mereka tayangkan tidak kreatif dan miskin gagasan. Sebab, masyarakat kini juga tidak mudah dipengaruhi dengan janji-jani muluk.ant/bet/kcm
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
26792 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas