A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Waspada Bunga Bank Tinggi, Bank Kecil Incar Deposan Besar - Surya
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 2 September 2014
Surya

Waspada Bunga Bank Tinggi, Bank Kecil Incar Deposan Besar

Selasa, 21 April 2009 09:14 WIB
SURABAYA | SURYA-Keputusan Bank Indonesia (BI) melikuidasi Bank IFI , sebaiknya dijadikan pelajaran bagi nasabah (deposan) berdana besar agar waspada. Sebab, dalam kondisi saat ini mereka menjadi incaran bank-bank kecil dengan iming-iming suku bunga di atas yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Pada periode 15 April-15 Mei 2009, tingkat suku bunga yang dijamin LPS adalah 7,75 persen. Sementara nilai simpanan yang dijamin telah ditetapkan pemerintah maksimal Rp 2 miliar. Nasabah yang menikmati suku bunga dari perbankan di atas 7,75 persen otomatis tidak termasuk dalam kategori nilai simpanan yang dijamin oleh pemerintah. Pengamat perbankan dari STIE Perbanas Surabaya Wilopo mengungkapkan, deposan yang menempatkan dana di atas Rp 2 miliar sebaiknya memahami risiko yang mungkin terjadi pada masing-masing bank. “Oleh sebab itu, nasabah dapat mengamati laporan keuangan yang dipublikasikan perbankan setiap tiga bulan sekali. Bagi yang awam sebaiknya sering bertanya pada yang lebih paham misalnya ke akuntan,” kata Wilopo, kepada Surya, Senin (20/4). Menurut Wilopo, tingkat kesehatan bank tercermin seluruhnya dari laporan keuangan bank yang dipaparkan kepada publik. Dalam laporan itu, nasabah dapat mengetahui neraca, laporan laba rugi dan permodalan masing-masing bank. Peringatan serupa juga dilontarkan Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Swasta Nasional (Perbanas) Sigit Pramono, yang meminta nasabah bank lebih bersikap hati-hati dan waspada. "Percayakan kepada BI, namun juga harus paham bahwa menyimpan uang tetap ada risikonya. Harus hati-hati juga dengan imbalan bunga simpanan yang tidak wajar," katanya, di Jakarta, Senin (20/4). Menurut Sigit, saat ini secara umum keadaan perbankan sangat baik, sehingga tak perlu ada yang dikhawatirkan. "Namun harus dipahami bahwa dalam suatu industri adalah wajar kalau ada satu dua yang kurang baik," tutur Sigit. Berdasarkan SK Gubernur Bank Indonesia No 11/ 19 /KEP.GBI/2009 tanggal 17 April 2009, BI memutuskan untuk mencabut izin usaha PT Bank IFI. Keputusan itu diambil karena Bank IFI kesulitan likuiditas sehingga tak bisa diselamatkan lagi. Dampak keputusan melikuidasi Bank IFI, lanjut Wilopo, dapat berimbas secara psikologis terhadap bank-bank kecil dengan nilai aset di bawah Rp 1 triliun. Agar tidak ditinggalkan oleh deposan, bank kecil terpaksa menawarkan suku bunga tinggi, bahkan di atas tingkat yang dijamin LPS. “Memang ada usulan agar pemerintah menerapkan penjaminan penuh (blanket guarantee) tetapi ini malah memberi kesan Indonesia bukan tempat yang aman. Solusinya nasabah harus paham,” jelasnya. Mengikuti kebijakan LPS menurunkan tingkat suku bunga yang dijamin sebesar 50 basis poin bulan ini, Bank Maspion menetapkan tingkat suku bunga baru. Direktur Bank Maspion, Goenawan Moeliono, dalam surat pemberitahuannya mengungkapkan, tingkat suku bunga yang berlaku per 15 April adalah 6- 7,75 persen per tahun. Deposito Meningkat Dalam kondisi tingkat suku bunga perbankan masih cukup tinggi, sementara di sisi lain sektor riil dan pasar modal belum sepenuhnya pulih, penempatan dana ke deposito diperkirakan tetap meningkat. Wilopo, yang juga Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Surabaya mengungkapkan, perbaikan sektor riil dan pasar modal dapat semakin cepat jika situasi sosial politik usai pemilihan presiden Juli 2009 tetap kondusif bagi dunia usaha. “Jika sektor riil dan pasar modal bergairah, orang akan semakin meninggalkan deposito,” kata Wilopo. Hingga akhir Februari 2009, dana deposito yang dihimpun perbankan di Jatim mencapai Rp 82,76 triliun melonjak 36,46 persen dibandingkan periode Februari 2008. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan tabungan yang hanya 16,05 persen menjadi Rp 60,75 trilun dan giro naik 8.98 persen menjadi Rp 32,2 triliun. ytz/jbp/aco Bank Modal Cekak Berisiko Diperkirakan sekitar 30 hingga 50 bank berskala kecil saat ini menghadapi ancaman serupa dengan kasus Bank IFI, yang dilikuidasi BI karena seretnya modal dan kredit macet yang membengkak. Menurut pengamat perbankan Aviliani, puluhan bank itu adalah bank skala kecil yang memiliki modal di bawah Rp 1 triliun. Meski tidak berdampak sistemik, jika semakin banyak bank berskala kecil yang menyusul dilikuidasi, maka bisa menurunkan kredibilitas perbankan nasional. "Sekitar 30-50 bank yang bisa mengalami seperti itu. Mereka adalah bank yang modalnya Rp 1 triliun ke bawah. Memang tidak sistemik, karena ada 15 bank besar yang mengusasi 70 persen aset. Tapi kan pemerintah harus menyiapkan juga, apalagi yang bahaya adalah krisis kredibilitas," katanya, kemarin. Ia menjelaskan, bank-bank kecil memang sedang mengalami ujian likuiditas sejak krisis moneter global melanda mulai Oktober 2008. Sejak itu, kepercayaan nasabah pada bank-bank kecil menurun dan nasabah berbondong-bondong mengalihkan dananya ke bank-bank besar. Bank skala kecil pun makin kesulitan likuiditas. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab suku bunga bank enggan turun, meski BI Rate sudah dipangkas beberapa kali. Karena bank sedang sulit mencari dana, mereka mencarinya dengan menjaga suku bunganya. “Tapi dana yang didapat hanya bisa untuk likuiditas saja, tidak bisa untuk menyalurkan kredit lagi. Bagi bank yang portofolio kreditnya tidak banyak, begitu sebagian bermasalah, maka NPL-nya jadi membesar," jelas Aviliani. Kondisi perbankan skala kecil ini makin diperparah karena tidak ada jaminan pinjaman antar bank. Padahal, pinjaman antar bank merupakan salah satu alternatif bagi perbankan kecil untuk menambah modalnya. dtf/jbp/aco
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
21933 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas