• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 24 Oktober 2014
Surya
Home »

Caleg Artis Goyahkan Politisi Jatim

Rabu, 15 April 2009 08:20 WIB
SURABAYA | SURYA-Jawa Timur memiliki 29,5 juta pemilih dalam pemilu 2009. Ini sangat menggiurkan, bukan saja bagi para politisi kawakan, tetapi juga politisi 'anyaran, seperti para artis ibukota. Tak heran, ada sedikitnya 12 artis ibu kota mempertaruhkan nama tenarnya untuk mengais suara warga Jatim. Hingga pada penghitungan suara, Selasa (14/4), ternyata tak sedikit artis yang mampu menjungkalkan atau mengalahkan perolehan suara para politisi kawakan yang sama-sama mengincari kursi di Senayan atau DPR RI (Selengkapnya lihat tabel di hal 1, -Red). Lihat saja aktor Adjie Massaid yang bertarung di Daerah Pemilihan (Dapil) Jatim II (Pasuruan-Probolinggo). Politisi Partai Demokrat (PD) yang sejak 2004-2009 duduk di Senayan itu mampu mengeruk 2.789 suara, atau tertinggi dari 8 caleg PD di Dapil Jatim II. Bahkan di Dapil yang berjatah 7 kursi DPR ini, hingga penghitungan kemarin mantan suami penyanyi Reza Arthamevia ini mampu mengalahkan para politisi kawakan dari partai-partai lain. Sebut saja di Dapil ini ada Roziki (PDIP) yang meraup 2.527 suara, Lili C Wahid (PKB) 2.324 suara, politisi kawakan Golkar Jatim Harbiah Salahuddin 1.331 suara, serta Mustofa Assegaf (PPP) dengan 2.557 suara. Nasib baik juga menggandeng Eko Patrio, pelawak yang berkendaraan Partai Amanat Nasional (PAN). Di Dapil Jatim VIII (Madiun, Nganjuk, Jombang, Mojokerto), untuk sementara lelaki yang bernama lengkap Eko Hendro Purnomo ini sudah mengumpulkan 161 suara dan ini tertinggi di partainya di dapil itu, atau tertinggi dari delapan caleg PAN. Itu baru hitungan yang dilakukan KPU Jatim. Namun berdasarkan penghitungan di KPU Kabupaten, Eko Patrio hingga Senin (13/4) saja sudah sampai pada angka 89.500 suara. Padahal di dapil yang berjatah 10 kursi ini terdapat nama sejumlah politisi seperti Ida Fauziah dari PKB (317), Sutjipto dari Demokrat (627) atau Hayani Isman dari Golkar (223). Kemungkinan sukses juga dialami penyanyi Denada, yang juga anak penyani Emilia Contessa. Berangkat dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Denada sanggup mencapai posisi kedua di antara para caleg PPP di Dapil V (Malang Raya). Penyanyi cantik ini mengantongi 188 suara. Di dapil yang menyediakan 8 kursi DPR itu, Denada bertarung dengan Luthfi H Ishaaq (PKS) 540 suara, Ali Maschan Moesa (PKB) 1.105, Endang A Syarwan H (Golkar) 306, Sri Rahayu (PDIP) 1.349, Nurhayanti Aliaseggaf dari Demokrat dengan 833 suara. Selain Adjie, Eko Patrio, dan Denada, juga terdapat mantan model Ratih Sanggarwati yang bertarung di Dapil Jatim I dan hingga kemarin meraup 295 suara, atau ranking pertama dari 5 caleg PPP. Di Dapil Jatim III juga terdapat Cahyono yang meraup 385 suara atau tertinggi dari 5 caleg PAN. Sementara Di Dapil Jatim VI berkibar nama artis Venna Melinda dengan 2.063 suara (ranking ke-2 dari 11 caleg Demokrat). Sementara di Dapil Jatim VII bertarung penyanyi dan presenter Ronni Waluyo yang sementara berhasil 428 suara atau ke-2 dari 8 caleg Hanura. Namun ada pula artis yang perolehan suaranya sementara masih jeblok. Contohnya Emilia Contessa. Penyanyi bersuara kuat yang berkendaraan PPP ini tidak seberuntung anaknya, Denada. Bertarung di Dapil Jatim II (Pasuruan-Probolinggo), Emil baru menghimpun 105 suara, alias juru kunci di antara lima PPP di dapil itu. Nasib buruk juga dialami penyanyi Andreas Taulany atau yang dikenal dengan Andre Stinky. Prestasinya di Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) benar-benar mengenaskan karena hanya mendapat 17 suara (hingga Selasa 14/4 sore) dari warga Dapil Jatim II. Mending, rekan artis separtainya, yaitu Erna Santoso yang bertarung di Dapil IX. Ia unggul dari rekan separtainya dengan 101 suara. Tapi, kalaupun mereka sanggup mengumpulkan ribuan suara, tetap saja tidak lolos ke Senayan, karena PDK tidak memenuhi ambang parlementer (parliamentary threshold) yang mensyaratkan perolehan suara 2,5 persen secara nasional. Cuci otak Banyaknya caleg berlatar belakang artis yang dipastikan bakal melengang ke Senayan, membuat miris sejumlah pakar politik. Karena, dunia selebriti dengan dunia politik sangat berbeda. Meskipun hal itu harus diakui sebagai bentuk pilihan masyarakat atas sistem suara terbanyak dalam pemilu kali ini. Hal itu disampaikan peneliti senior LIPI Syamsudin Haris dalam diskusi politik di arena tabulasi penghitungan KPU di Hotel Borobudur. Dia meminta sebelum dilantik sebagai wakil rakyat, para caleg terpilih yang latar belakangnya artis harus di-training dulu oleh partainya. Dengan harapan, mereka bisa menjalankan tugas secara maksimal mengemban amanat masyarakat yang memilihnya. “Mereka harus di-upgrade terlebih dahulu. Baik oleh partai yang mengusung dia atau ikut pelatihan sendiri mengenai tugas-tugas dan tanggungjawabnya. Tidak lagi sebagai artis, melainkan sebagai wakil rakyat,” terangnya. Masih menurut Haris, jika tidak melakukan pelatihan atau training terlebih dahulu, caleg terpilih yang berlatar belakang artis juga bisa menggunakan tim asistensi yang bisa menunjangnya melaksanakan tugas sebagai wakil rakyat. Sehingga, saat berada di Senayan tidak bengong dengan dunia mereka yang baru dan benar-benar berbeda dari dunia yang digeluti selama ini. “Jika tidak disadari perbedaan itu, maka sangat bahaya. Mereka di Senayan hanya bengong saja melihat para senator lain berdebat dan sibuk menyiapkan program untuk masyarakat. Untuk tugas partai politik sangat penting untuk memberikan latihan terhadap mereka yang memiliki latar belakang selebritis tersebut,” tukasnya. Hal senada dikatakan pengamat politik Yudi Latief. Menurutnya, selain bisa berpolitik, para anggota DPR tersebut juga harus memiliki kemampuan membuat peraturan perundang-undangan. Karena hal itu akan menjadi acuan bagi pemerintah dan masyarakat. Artinya, jika peraturan tersebut dibuat oleh orang-orang yang tidak faham dan mengerti pembuatan perundang-undangan, maka tidak akan bisa dijalankan di masyarakat. “Yang agak berat tugas mereka membuat undang-undang. Dan hal itu harus dijalani para senator nanti. Makanya perlu pelatihan pendidikan politik, pendidikan hukum khususnya pembuatan undang-undang bagi caleg yang asalnya dari selebritis,” urainya. k6/jbp/coi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
20945 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas