• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 18 September 2014
Surya
Home »

Gila Caleg, Caleg Gila

Jumat, 24 April 2009 00:29 WIB
Kalau yang terjadi adalah caleg yang kehilangan ”jiwanya” sebagai wakil rakyat, tak ada satupun rumah sakit yang siap menampung dan menyembuhkannya. Mereka inilah yang akan mencederai cita-cita luhur demokrasi. Kepada caleg terpilih, kami titipkan masa depan bangsa ini kepada kalian. INILAH jargon politik paling populer itu. ”Tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan pribadi.” Jargon ini menggambarkan betapa ketatnya persaingan dalam memperebutkan kursi empuk anggota legislatif. Persaingan yang begitu ketat berpotensi besar mengakibatkan gangguan kejiwaan bagi para caleg yang gagal. Pesta demokrasi 9 April 2009 akan memilih wakil-wakil rakyat. Semarak hajatan akbar ini mulai tampak sejak genderang kampanye resmi ditabuh 16 Maret 2009. Berbagai upaya ditempuh para caleg dan partai peserta Pemilu untuk menarik perhatian konstituen. Selain siap bertarung, kesiapan finansial merupakan syarat yang harus dipenuhi para caleg. Mereka harus rela mengeluarkan jutaan, ratusan juta bahkan mencapai miliaran rupiah untuk berbagai keperluan. Para caleg akan menguras tabungan, menjual tanah, menggadaikan barang berharga dan bahkan, harus rela pinjam sana-sini. Ironisnya, para kontestan yang ikut kompetisi sebagai wakil rakyat dalam Pemilu, semuanya merasa yakin berhasil. Mereka jarang sekali yang siap tereleminasi dan legawa menerima kekalahan. Menurut para pengamat, hal ini bisa memicu timbulnya gangguan kejiwaan para caleg. Betapa tidak, mereka telanjur mengeluarkan dana yang cukup besar, ternyata gagal meraih kekuasaan. Nikmatnya kursi dewan, mobil mewah dan rumah dinas yang selama ini diimpikan tinggal kenangan. Para caleg yang gagal merasa terpukul, frustrasi, putus asa, terjebak utang dan segudang kekecewaan yang bisa membuat stres berat, gila, dan bahkan bunuh diri. Suara Terbanyak Permainan politik pada Pemilu 2009 lebih keras ketimbang Pemilu 2004. Terbitnya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) membuat partai benar-benar tak memiliki kuasa. Setelah ditetapkan perolehan kursi dengan suara terbanyak, pergantian calon terpilihpun dengan sistem yang terbanyak mendulang suara (Surya, 27/3/2009). Dengan sistem ini, mau tidak mau para caleg harus rajin memperkenalkan diri pada publik. Agar bisa rajin menyapa pemilih, tentunya diperlukan biaya tambahan. Berbagai dana tak terduga akan membuat modal kian membengkak. Jika demikian, prediksi gangguan kejiwaan bagi caleg yang haus kekuasaan dan ternyata gagal semakin kuat. Semakin banyak dana dan tenaga yang dikeluarkan, semakin tinggi tingkat stres yang dialami caleg gagal. Persaingan dan pertarungan yang cukup sengit memaksa para caleg memeras tenaga, pikiran dan dana guna menghadapi tantangan tersebut. Selain bersaing dengan caleg antarparpol, kompetisi sesama caleg dalam internal partai juga tak kalah seru. Beban yang harus ditanggung para caleg semakin bertambah berat. Prediksi melonjaknya orang stres semakin diperkuat dengan disiapkannya Rumah Sakit Jiwa (RSJ) bagi caleg yang kalah di berbagai daerah. RSJ Menur Surabaya menyiapkan 30 tempat, baik Kelas Utama maupun VIP untuk caleg gagal tapi masih mampu membayar agak mahal biaya perawatan. Sedangkan bagi caleg gagal dan bangkrut, RSJ Menur menyiapkan kamar rawat biasa dengan tarif terjangkau, Rp 25.000 per hari (Surya, 24/3/2009). Kehilangan Jiwa Hampir bisa dipastikan, orientasi awal semua caleg adalah ambisi meraih jabatan. Dengan jabatan dan kekuasaan, mereka akan mendapatkan penghormatan, popularitas dan berusaha memperkaya diri. Terlebih bagi caleg yang terlalu berlebihan mengeluarkan modal. Saat terpilih menjadi anggota legislatif, yang terpikir pertama kali adalah bagaimana cara mengembalikan modal tersebut. Masalah kesejahteraan rakyat, pendidikan, ekonomi dan janji-janji manis lainya saat berkampanye dilupakan. Sedikit sekali wakil-wakil rakyat yang berangkat dari kesadaran dan semangat membangun negara. Jarang sekali caleg yang benar-benar tulus mengabdikan diri kepada bangsa. Jika motivasinya seperti ini, niscaya fenomena caleg gila tidak akan pernah ada. Kesuksesan dan kegagalan adalah dua hal yang berlawanan dan harus dipilih salah satunya. Jadikanlah kegagalan hidup sebagai pengalaman untuk tidak terulang di kemudian hari. Sebagai mahkluk yang beragama, sepatutnya untuk senantiasa berserah diri kepada Tuhan. Pendekatan diri pada Tuhan merupakan dimensi transedental yang bisa mengurangi stres. Salah satu tujuan reformasi di negeri ini adalah berusaha menegakkan negara demokrasi. Negara menghargai kebebasan setiap warganya. Setiap warga negara yang memenuhi persyaratan berhak mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Kesempatan yang terbuka lebar ternyata mampu merangsang banyak orang menjadi ”gila caleg”. Gila caleg dan gila kekuasaan menuntut banyak orang berjuang keras untuk mendapatkannya. Namun setelah mengeluarkan modal besar dan gagal dalam Pemilu, yang muncul justru fenomena ”caleg gila”. Tetapi sebenarnya ada satu hal yang mengancam dan perlu diwaspadai. Para caleg yang lolos menjadi anggota dewan dan ”gila-gilaan” dalam mengemban tugas adalah fenomena yang sangat berbahaya. Mereka tidak segan-segan merampok negara, menindas rakyat dan memasung kemerdekaan. Jika para caleg yang lolos dan mengalami gangguan kejiwaan kemudian duduk di kursi perwakilan rakyat, maka perahu negeri ini akan menghadapai badai besar. Jika terjadi fenomena caleg gila, solusinya sangat mudah, yakni dengan menyiapkan Rumah Sakit Jiwa. Tapi, kalau yang terjadi adalah caleg yang kehilangan ”jiwanya” sebagai wakil rakyat, tak ada satupun rumah sakit yang siap menampung dan menyembuhkannya. Mereka inilah yang akan mencederai cita-cita luhur demokrasi. Kepada caleg terpilih, kami titipkan masa depan bangsa ini kepada kalian. Jagalah amanat rakyat demi terwujudnya perubahan bagi Indonesia. Yusuf Fatawie Pengamat politik, tinggal di Kediri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
19423 articles 36 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas